Belajar dari China, Tri Adhianto Ingin Bantargebang Berubah dari Gunungan Sampah Menjadi Pusat Ekonomi Hijau -->

Header Menu

Advertisement

Belajar dari China, Tri Adhianto Ingin Bantargebang Berubah dari Gunungan Sampah Menjadi Pusat Ekonomi Hijau

Rabu



Gibasnews.com, BEKASI - Pemerintah Kota Bekasi mulai menyusun mimpi besar bagi masa depan Bantargebang. Kawasan yang selama puluhan tahun identik dengan tumpukan sampah itu ditargetkan bertransformasi menjadi pusat ekonomi sirkular dan inovasi lingkungan.


Gagasan tersebut mengemuka saat Wali Kota Bekasi Tri Adhianto bersama rombongan DPRD Kota Bekasi melakukan kunjungan kerja ke Mizuda Group di Provinsi Zhejiang, China. Perusahaan tekstil terbesar di Tiongkok itu dinilai sukses melakukan transformasi bisnis hingga melahirkan Wangneng Environment, salah satu perusahaan pengolah sampah menjadi energi (waste to energy) terbesar di negeri tersebut.


Menariknya, Wangneng merupakan perusahaan yang akan membangun proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bantargebang dalam waktu dekat.


Bagi Tri Adhianto, pelajaran paling berharga dari kunjungan itu bukan semata teknologi pengolahan sampah, melainkan keberanian sebuah perusahaan melakukan inovasi hingga melahirkan sektor usaha baru yang tetap terhubung dengan bisnis utamanya.


"Yang kami pelajari bukan hanya proses produksinya. Mizuda membuktikan bahwa inovasi mampu melahirkan bisnis baru yang memberikan nilai ekonomi sekaligus menjadi solusi bagi persoalan lingkungan," ujar Tri.


Menurutnya, pengalaman Mizuda dapat menjadi referensi bagi Kota Bekasi dalam menata masa depan Bantargebang. PSEL diproyeksikan bukan sekadar fasilitas pengolah sampah, tetapi menjadi pintu masuk lahirnya ekosistem industri berbasis ekonomi sirkular.


Konsep yang disiapkan meliputi pengembangan industri turunan, pemanfaatan limbah hasil pembakaran seperti fly ash dan bottom ash (FABA), pusat inovasi lingkungan, hingga investasi yang mampu menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.


Dalam kunjungan tersebut, Pemkot Bekasi juga membuka peluang kerja sama dengan Mizuda Group melalui Dekranasda Kota Bekasi. Kerja sama diarahkan untuk memperkuat industri kreatif, khususnya sektor fesyen, melalui peningkatan kapasitas desainer muda, pengembangan kualitas produk UMKM, pertukaran pengetahuan, hingga perluasan akses pasar internasional.


Tri menilai kolaborasi tersebut penting agar produk-produk kreatif asal Bekasi memiliki daya saing di pasar global.


Selain menjajaki kerja sama, Tri juga mengundang Mizuda Group untuk mempertimbangkan investasi di Kota Bekasi, termasuk menjadikan Bantargebang sebagai kawasan pengembangan industri berbasis ekonomi hijau.


Menurutnya, kawasan itu ke depan tidak hanya diisi fasilitas pengolahan sampah, tetapi juga pusat industri yang mampu menghadirkan transfer teknologi, membuka lapangan pekerjaan, sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat.


Ia menegaskan, transformasi Bantargebang harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. PSEL hanyalah fondasi awal untuk membangun kawasan yang lebih produktif, modern, dan ramah lingkungan.


"Saya ingin lima hingga sepuluh tahun mendatang, ketika orang mendengar nama Bantargebang, yang terbayang bukan lagi gunungan sampah. Yang diingat adalah kawasan inovasi lingkungan, pusat ekonomi hijau, serta tempat lahirnya peluang-peluang baru bagi masyarakat Kota Bekasi," pungkasnya.


Meski demikian, ambisi besar tersebut akan menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan. Keberhasilan transformasi Bantargebang nantinya akan sangat bergantung pada konsistensi pemerintah dalam merealisasikan proyek PSEL, menarik investasi, menjaga keberlanjutan lingkungan, serta memastikan manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat sekitar.