Tracing TB di Harapan Mulya Temukan Warga Positif, Skrining Dini Jadi Kunci Putus Penularan -->

Header Menu

Advertisement

Tracing TB di Harapan Mulya Temukan Warga Positif, Skrining Dini Jadi Kunci Putus Penularan

Kamis

 


Gibasnews.com, BEKASI - Upaya menemukan kasus tuberkulosis (TB) sejak dini terus dilakukan UPTD Puskesmas Harapan Mulya, Kota Bekasi. Melalui program pelacakan atau tracing berbasis Cek Kesehatan Gratis (CKG), petugas kesehatan menyisir lingkungan permukiman untuk mendeteksi warga yang berisiko tertular sekaligus memutus mata rantai penyebaran penyakit tersebut.


Kegiatan yang dilaksanakan di lima RW dan satu kantor Kelurahan Harapan Mulya itu menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan pelayanan kesehatan. Petugas tidak hanya melakukan pemeriksaan terhadap warga, tetapi juga menelusuri kontak erat pasien TB, memberikan edukasi, serta mengidentifikasi masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.


Dalam pelaksanaannya, kegiatan tracing dilakukan secara bertahap. Pada 10 September 2026 di RW 2, petugas mencatat dua kasus indeks TB dan melakukan skrining terhadap 100 warga. Dari pemeriksaan tersebut, ditemukan 10 orang terduga TB, dengan satu orang dinyatakan positif berdasarkan pemeriksaan BTA. Sementara populasi berisiko yang terdata mencapai 45 orang.



Selanjutnya, pada 25 September 2026 di RW 5, petugas kembali melakukan skrining terhadap 100 warga. Dari tiga kasus indeks TB yang ditelusuri, ditemukan delapan orang terduga TB. Namun, tidak ditemukan warga dengan hasil pemeriksaan BTA positif. Adapun jumlah populasi berisiko tercatat sebanyak 45 orang.


Kegiatan serupa berlanjut pada 19 Oktober 2026 di RW 3. Dengan menelusuri tiga kasus indeks TB, petugas melakukan skrining terhadap 100 warga dan menemukan lima orang terduga TB. Hasil pemeriksaan BTA pada kegiatan tersebut tidak menemukan kasus positif. Selain itu, petugas mencatat 28 orang dalam populasi berisiko dan 72 orang yang masuk kategori kontak erat.


Kepala UPTD Puskesmas Harapan Mulya, Bdn. Suherni, Str.Keb, mengatakan pelaksanaan tracing merupakan langkah proaktif untuk menjangkau masyarakat yang berpotensi terpapar TB, terutama mereka yang memiliki riwayat kontak dengan pasien.


Menurut dia, penemuan kasus tidak bisa hanya mengandalkan warga yang datang berobat ke fasilitas kesehatan. Diperlukan upaya langsung ke lingkungan masyarakat agar warga yang memiliki gejala maupun faktor risiko dapat segera menjalani pemeriksaan.


"Melalui kegiatan tracing berbasis Cek Kesehatan Gratis ini, kami berupaya melakukan jemput bola dengan mendatangi lingkungan masyarakat. Tujuannya agar warga yang berisiko tertular TB bisa segera teridentifikasi dan mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Semakin cepat ditemukan, semakin cepat pula penanganan dapat dilakukan sehingga risiko penularan bisa ditekan," ujar Suherni, Rabu (4/11).


Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala yang mengarah pada penyakit TB, seperti batuk berkepanjangan, demam, berkeringat pada malam hari, hingga penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.


Suherni menegaskan, pemeriksaan dini menjadi salah satu kunci penting dalam pengendalian TB. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak merasa takut ataupun malu untuk memeriksakan diri apabila mengalami gejala atau memiliki riwayat kontak erat dengan penderita.


"TB merupakan penyakit yang perlu ditangani secara serius, tetapi dapat diobati. Kami mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri dan keluarga, tidak menunda pemeriksaan, serta mengikuti anjuran petugas kesehatan apabila ditemukan indikasi TB," katanya.


Melalui kegiatan tersebut, Puskesmas Harapan Mulya berharap penemuan kasus TB dapat semakin meningkat, khususnya pada kelompok masyarakat yang selama ini berisiko tetapi belum terjangkau pelayanan kesehatan.


Upaya pencegahan juga membutuhkan keterlibatan masyarakat, mulai dari kesediaan mengikuti skrining, keterbukaan menyampaikan riwayat kontak, hingga mendukung pengobatan pasien sampai tuntas.


Dengan demikian, pengendalian TB tidak hanya menjadi tanggung jawab fasilitas kesehatan, tetapi juga memerlukan kesadaran dan partisipasi warga untuk memutus rantai penularan di lingkungan tempat tinggal.