Gibasnews.com, TASIKMALAYA – Tersendatnya aliran air di sejumlah wilayah Kabupaten Tasikmalaya memantik protes dari Gabungan Inisiatif Barisan Anak Siliwangi (GIBAS) Kabupaten Tasikmalaya. Mereka menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya, Kamis (16/7/2026), sebagai bentuk kekecewaan atas minimnya sosialisasi pelaksanaan program Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) kepada masyarakat.
Bagi warga, persoalan ini bukan hanya soal air yang tak lagi mengalir lancar. Di baliknya, ada aktivitas rumah tangga yang terganggu hingga ancaman terhadap kebutuhan irigasi pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Ketua GIBAS Kabupaten Tasikmalaya, Waris, menegaskan masyarakat berhak mengetahui pekerjaan yang tengah dilakukan BBWS, terlebih jika dampaknya langsung dirasakan oleh warga. Menurutnya, hingga saat ini tidak pernah ada penjelasan ataupun sosialisasi terkait pelaksanaan program tersebut.
"Kami meminta BBWS tidak hanya bekerja di lapangan, tetapi juga hadir di tengah masyarakat untuk memberikan penjelasan. Jangan sampai warga hanya menerima dampaknya tanpa mengetahui apa yang sebenarnya sedang dikerjakan. Air yang tersendat telah mengganggu kebutuhan sehari-hari masyarakat dan berpotensi berdampak terhadap sektor pertanian," ujar Waris dalam orasinya.
Dalam aksi tersebut, GIBAS juga mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya untuk tidak sekadar menjadi penonton. Pemda diminta segera memfasilitasi dialog antara BBWS dan masyarakat guna mencari solusi atas persoalan yang terjadi, sekaligus memastikan perbaikan aliran air dilakukan secepat mungkin.
Aksi yang berlangsung dengan pengawalan aparat kepolisian dari Polres Tasikmalaya itu berjalan tertib. Massa menyampaikan tuntutan secara terbuka dan meminta adanya kepastian waktu penyelesaian persoalan yang mereka hadapi.
Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya telah menerima surat tuntutan dari perwakilan GIBAS dan menyatakan akan segera merespons aspirasi masyarakat dalam waktu dekat.
Kini, masyarakat menanti langkah nyata dari pihak terkait. Sebab bagi warga, air bukan sekadar kebutuhan, melainkan urat nadi kehidupan yang tak boleh tersendat oleh minimnya komunikasi dan sosialisasi.
