BW: Hasil Quick Count, Ditakutkan ada Ketidakjujuran -->

Header Menu

Advertisement

BW: Hasil Quick Count, Ditakutkan ada Ketidakjujuran

Redaksi
Rabu

Doc. Ricky Jelly 

Bekasi, Gibasnews.com - Mantan anggota KPK Bambang Widjojanto saat meninjau ke gudang logistik KPU Kota Bekasi, dan juga tempat penghitungan suara, dirinya angkat suara tentang quick count.

"Sekarang tidak dijelaskan, apakah itu independen apa enggak sebanyak apa independennya itu menjaga akuntabilitas dan kualitas terjaga," kata Bambang di Bekasi Timur.

Lebih lanjutnya  Bambang mengatakan, kalau ngambil dari kantong-kantong suara (paslon tertentu) itu jelas bisa langsung menang, itu tidak jujur, datanya gak pernah di buka (dari tps mana saja ambil sampel-red).

"Sekarang bagaimana kita meyakinkan diri bahwa pengambilan data TPS itu secara jujur dan merata. Real count unggul, pembenaran hasil quick count?. Bisa aja begitu, tapi kan tetep harus aja dibuka, karena ditakutkan ada ketidakjujuran bahwa sebagian penyelenggara quick count itu adalah konsultan politik, yang kita jaga kan dari kecurangannya," ungkap Bambang.

Tak hanya itu ia menjelaskan, jangan lupa, quick count sebelumnya diawali dengan survei. Hampir sebagian survei itu tidak sebanding dengan quick count.

"Contoh waktu pemilihan gubernur Jawa Barat yang namanya Hasanudin  Anton dan Sudrajat Syaikhu itu surveinya di bawah 10 persen semua. Hasilnya apa, Anton Charliyan dan Hasanudin dapat 12 persen, tadinya cuma enam persen jadi 200 persen kesalahannya, sudrajat syaikhu lebih gila lagi cuma 8 persen pada survei pada quick count hampir 28 juta, hampir 400 persen perbedaannya," bebernya.

Artinya ada proses manipulasi, masih dikatakan Bambang, Jadi proses mendowngrade dalam survei sudah terjadi. Dan itu dilakukan oleh konsultan politik yang melakukan quick count.

"Kasus pks? Ya sama, perolehannya mendekati 9 persen, lewat survei di bawah 4 persen, tidak lolos ambang batas untuk parlemen. Itu kan berartu 250 persen kesalahannya, anda masih percaya dengan lembaga seperti itu," ujarnya.

Maka sekarang anggaran lembaga survei sebagai refresentasi suara dipertanya, karena ketidakjujuran, dari awal sudah tidak jujur, pertama tidak pernah membuka uangnya dari mana.


"Tapi kalau saya sekarang melihat militansi emak-emak yang mengawal demokrasi dan menyelamatkan pemilu adalah emak-emak," ungkap kepada para awak media dilokasi penghitungan suara Bekasi Timur Kota Bekasi. (*)